Masalah Komunikasi Dokter-Pasien di Indonesia



Berdasarkan data dari Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) DKI Jakarta, antara tahun 1998-2006 didapatkan 99 kasus pengaduan terhadap profesi dokter. Hal yang paling sering menjadi awal permasalahan adalah kelemahan komunikasi antara dokter dengan pasien atau antara rumah sakit dengan pasien.
image

Hal lain yang menyedihkan adalah fakta bahwa lebih dari seratus ribu warga Indonesia berobat ke Singapura setiap tahunnya. Selain Singapura, tujuan berobat pasien asal Indonesia adalah Malaysia dan Ghuang Zou Cina. Data tahun 2006 menyebutkan jumlah devisa negara yang tersedot ke rumah sakit di luar negeri mencapai US$600 juta setiap tahunnya. General Manager National Healthcare Group International Business Development Unit (NHG IBDU) mengungkapkan, sebanyak 50% pasien internasional yang berobat ke Singapura adalah warga Indonesia.

Setiap tahun, wisatawan medis yang berobat ke Singapura mencapai 200.000 orang. Artinya ada sekitar 100.000 warga Indonesia berobat ke Singapura tiap tahun, atau sekitar 273 pasien setiap harinya. Chooi Yee Choong, direktur regional, ASEAN (Islands) International Operations mengatakan, “Setiap tahun sekitar 300.000 pasien asing berobat ke Singapura. Indonesia termasuk the big three.” Selain itu warga Sumatera Utara dan sekitarnya yang berobat ke Penang, Malaysia, mencapai seribu orang setiap bulannya.

Salah satu faktor utama yang menyebabkan peningkatan kebiasaan berobat ke luar negeri adalah hubungan dan cara berkomunikasi dokter-pasien di Indonesia yang kurang baik. Cara berkomunikasi dokter-pasien di Indonesia kalah jauh dibandingkan dengan dokter-dokter di luar negeri, padahal secara medis kemampuan dokter-dokter Indonesia tidak kalah dibandingkan dengan dokter luar negeri. Ditambah lagi, pasien dan dokter di negara kita menggunakan bahasa yang sama, yaitu bahasa Indonesia. Dengan persamaan bahasa tersebut seharusnya lebih memudahkan dalam menjalin komunikasi, memperlihatkan empati dan lain sebagainya.

Fakta diatas membuktikan betapa lemahnya komunikasi dokter-pasien di Indonesia.
Kelemahan komunikasi antara dokter-pasien mengakibatkan kurang terjalinnya hubungan yang baik antar individu. Komunikasi yang baik juga menentukan dalam mengumpulkan informasi yang akurat mengenai kondisi pasien. Penelitian terhadap dokter bedah ortopedi menunjukkan bahwa mereka yang membina rapport yang baik dengan pasien, yang meluangkan waktu untuk memberi penjelasan dan bersedia dihubungi oleh pasien memiliki tuntutan hukum yang lebih sedikit.

Beberapa pasien mengungkapkan berobat di Singapura sangat puas, karena dapat berkonsultasi dengan dokter hingga 1 jam. Di Indonesia, bila seorang pasien dapat berkonsultasi dengan dokter selama 15 menit, maka hal tersebut menjadi hal yang langka, terutama pada dokter yang ber"tangan dingin" atau laris. Sebagian besar hubungan dokter-pasien pun hanya bersifat satu arah dikarenakan jumlah pasien yang banyak dalam waktu yang terbatas.

Selain itu dokter di Singapura juga lebih mudah dan bersedia dihubungi oleh pasien. Mereka mencantumkan nomor telepon seluler atau nomor hotline yang bisa dihubungi pasien pada kartu namanya. Seorang pasien bisa berkonsultasi dengan dokternya melalui email dan Short Message Service (SMS) setelah tidak lagi berada di Singapura. Di Indonesia, banyak dokter yang tidak memberikan waktu untuk mendengarkan keluhan pasien, sehingga pasien takut untuk mengungkapkan masalahnya secara lengkap, juga sangat sedikit yang bersedia memberikan nomor telepon/Handphone serta alamat email kepada pasien.

Saat ini persaingan global dalam bidang pelayanan kesehatan tidak dapat dipungkiri lagi. Tuntutan para pengguna jasa pelayanan kesehatan juga semakin meningkat. Beberapa hal diatas memperlihatkan bahwa dokter Indonesia harus berbenah diri bila ingin bertahan dalam persaingan yang semakin ketat, terutama dengan akan diberlakukannya AFTA sebentar lagi, dimana dokter asing boleh berpraktek di Indonesia.
Siapkah anda?
(FA/SO)



Arsip

 Berita lainnya...

Copyright © 2008. Iluni-FK.org. All Rights Reserved